Template by:
Free Blog Templates

Monday, 20 October 2014

Bodohnya aku

Di dunia ini, mungkin tak ada pria yg lebih bodoh dariku. Membiarkan seorang bidadari berlalu. Hilang dan hampir mustahil mengulanginya kembali. Tinggalah aku yang lagi" menyesali kebodohanku. Padahal tanganya berada di jangkauan genggamku, aku hanya butuh sedikit keberanian untuk menyapanya.tapisayangnya aku terlalu takut memulai. Padahal sosoknya begitu nyata, tapi kepengecutanku mengubahnya menjadi bayangan kabur lagi. Apakah aku jatuh cinta? Ntahlah, saat itu aku takut, tapi saat ini aku lebih takut jika harus mencintai bayang". Mungkin kesempatanku denganya telah tamat, tapi ntah mengapa aku masih tak bisa mengendalikan fikiranku. Masih membekas jelas sosoknya, masih tercium jelas wanginya. Mungkin Tuhan menghadirkanya untuk menguji nyaliku, tapi aku gagal. Aku masih berkutat pada bayang" ketakutan yang sama. Ketakutan yang mungkin hanya ilusi, tapi tetap saja kupelihara dan kujadikan teman setia. Buat kamu bidadari yang kusesali. Kemungkinan besar kamu hanya akan hadir sekali, dan saat itu telah ku sia siakan. Maafkan aku. Aku memang pengecut, terlalu takut merengkuh wangimu. Tapi bukankah Tuhan maha berkehendak, jika Dia memutuskan mempertemukan kita kembali akan kukumpulkan keberanianku untuk berdiri, mengajukan diri di hadapmu. Aku telah merasakan sakitnya penyesalan. Aku tak ingin merasakanya lagi.Aku sadar, belum tentu juga kamu serasa denganku. Akupunpun tak bisa berharap banyak. Aku cuma ingin kamu tahu ini bukan inginku, aku tak bisa menghentikanya dari kepalaku. Tapi walaupun begitu aku bersyukur, walau hanya sebentar, kamu bisa membuatku merasakan rasanya mencintai

Festival lampion
Pacitan 20 oktober 2014

Saturday, 23 August 2014

Intermezo

Aku nongol lagi.setelah sekian lama nganggurin blog ini akirnya rasa kangen itu dateng juga ,lebay mode: ON, rasanya seperti pertama kali posting, canggung, mungkin sel sel syarafku udah lupa caranya nulis artikel, tapi kucoba merangkai kata demi kata yang kebetulan terlintas dibenakku, untuk melemaskan otot jari jemari yang mulai kaku, ditahan kenyataan bahwa hidup semakin sulit, semakin keras dan tanpa pandang bulu, kucoba untuk kembali menggali memori agar aku bisa merasa kembali bahwa dibalik kerasnya persaingan hidup harus ada prinsip yang harus diperjuangkan, bukan hanya tentang materi tetapi juga nurani. Aku harus belajar bukan hanya mampu meninju dengan keras tapi juga membelai dengan lembut, menepuk bahu untuk memberi harapan, memang aku seperti melawan kenyataan, tapi bukankah aku sebagai manusia diciptakan sebagai khalifah, pemimpin yang seharusnya membawa perubahan, perubahan baik tentunya, akirnya kucoba untuk menulis kembali, karena dengan menulis, aku bisa mempertanyakan segalanya, untuk mencari jawaban sejati tentang diriku sendiri, hingga aku masih bisa membedakan diriku dengan mesin, menggunakan naluriku untuk melihat sesuatu dari berbagai sisi, akuharus banyak belajar lagi tentang empati, melihat hidup sebagai jaring yang saling terhubung satu sama lain dan beharap satu simpul yang kubuat mempunyai cukup energi untuk mengikat sebanyak mungkin simpul lainya dalam damai