Template by:
Free Blog Templates

Wednesday, 6 April 2011

Dahaga jiwa

Malam masih setia dengan keangkuhanya.Saat sayup rintik hujan tak mampu damaikan hatiku masih juga berbalut gundah.Mencoba menelaah sisi demi sisi misteri masa.Aku bimbang, jiwaku tak jua temukan pelabuhan.Memang kulihat pendar pendar harapan.Tapi saat kudekati baranya seakan bakar ragaku.Mungkin ini hanya ilusi,pelampiasan kepengecutanku yang tak mampu menatap keindahan.
Perlahan guntur membuka suara.Mencoba iringi symfoni yang semakin hampa.Seakan mengejekku yang tak mampu berdamai dengan fikiranku sendiri.Yang hanya percaya hitung logika,hingga semakin mengerdilkan hati.Membuatku tak percaya roda nasib akan berputar.Karena yang kulihat,yang kurasakan hanya ludah ludah para begundal berkuasa.Yang senyumnya berisi cibiran.
Bahkan cintapun hanya omong kosong belaka.Karena saat dia mekar,yang tumbuh hanya bunga bunga kemunafikan.Yang terus berteriak pada hati bahwa jiwa ini tak pantas untuk cinta yang hanya dilahirkan untuk para raja.Bukan untuk kaum papa yang hina.Yang harus berdamai kala cinta datang,membohohongi hati dengan kenyataan.Membiarkan benih itu meranggas dan mati.
Tak ada yang peduli,walau sekuat tenaga berteriak.Karena hilang ditelan angin kesombongan.Mata mata yang terus mengawasi,mengabadikan cengkeramanya.Mengubur nasib dalam lingkaran setan ini.Sudah kering harapan keindahan,bosan bohongi nurani,munkin memang guratan takdir,diam dalam kepasrahan dan biarkan waktu yang mengakhiri.

0 comments: