Template by:
Free Blog Templates

Tuesday, 28 June 2011

My real dream

Aku selalu menganggap bhwa mimpi hanyalah bunga tidur,tp tidak dg mimpiku tadi malam.Saat itu aku merasa sedang berada di suatu pantai.Disana aku melihat 3 orang yang berdiri seakan menanti ombak.
Orang pertama,saat ombak datang dia selalu berlari ke arah tebing untuk menghindar.Wajahnya ketakutan seakan ombak itu akan menelanya.
Kemudian aku lihat orang kedua.Dia hanya mematung menanti ombak datang.Dia tak berbuat apa" sehingga saat ombak datang, dia tersapu dan lenyap begitu saja.
Orang ketiga bediri dengan papan selancaranya,dia berlari menyongsong ombak kemudian berdiri di atasnya,menikmatinya, seakan dia mampu mengendalikanya.
Saat terbangun aku termenung.Aku merasa ini jawaban Tuhan dari kegundahanku selama ini.Seakan Dia berkata "Hidup ini memang penuh mara bahaya seperti ombak itu.Keberhasilan hidup seseorang ditentukan bagaimana dia menghadapinya,apakah sperti orang pertama yang selalu menghindar dari masalah.Mungkin dia selamat,tapi tetap menjadi pengecut yang tak akan mampu dibebani tanggung jawab.
Ataukah menjadi seperti orang kedua,yang hanya pasrah tanpa usaha.Tanpa mau meningkatkan kualitas dirinya.Dan saat marabahaya datang,tak ada yang bisa dilakukanya,hingga hancur lebur tak berbekas.
Orang yang berhasil akan memilih menjadi seperti orang ketiga.Dia mempersiapkan papan selancarnya, seperti orang yang selalu belajar untuk menghadapi masalah.Berusaha memperkuat pundaknya untuk mengangkat beban yang lebih berat,sehingga saat ombak datang dia justru menyongsongnya karena dia tahu kesulitan itu yang akan menempanya, menjadikanya lebih kuat dan semakin kuat.
Aku kembali termenung,selama ini aku masih sering lari dari masalah sperti orang pertama,putus asa dan menyerah seperti orang kedua.Tapi aku akan selalu berusaha untuk bangkit dan menjadi lebih kuat seperti orang ketiga.Semoga.

Monday, 13 June 2011

Bidadari

Lihatlah malam ini
rintik hujan tak lagi tersisa
bahkan mendung pun enggan
nodai lembut damainya

tapi mengapa wajahmu kelabu
adakah yang salah disini
atau ulah penggoda durjana
yang hilangkan senyum dr wajahmu

tersenyumlah cantik
jangan biarkan bungamu melayu
atau gugurkan asa para bintang
karena harapnya terpaut padamu

buka jendelamu dan tatap dunia
hapus resahmu dan kembali tertawa
karena duka tak pantas untukmu
untuk seorang bidadari sepertimu

Friday, 10 June 2011

Maafkan aku

Maafkan aku yang masih hidup dalam bayangmu.Masih mencoba menata asa yang puingnya berserakan di dasar hati.Melawan logika melawan pedih penantian panjang tak bertepi.Untukmu yang bahkan mungkin menganggpku telah mati.
Kau yang agung.Bunga yang mekar di malam yang berhiaskan rembulan.Pijarmu merasuk benakku biuskan racun.Hingga kini aku tawananmu, tak mungkin melepaskan diri karena jiwaku sepenuhnya untukmu.
Tapi ingatkah engkau dahulu.Kita pernah bersama arungi remaja.Tak ada kasta, hanya debaran kuasai raga.Saat berjalan di lembah imajinasi, bersama arungi dunia.Tak ada beban,hanya keindahan yang terlihat mata.
Sayangnya kemudian kita tersadar.Kita terlalu berbeda.Kau terlalu anggun bagiku.Hingga terlalu besar untuk kurengkuh dengan bahu kecilku yang lemah ini.Dan mulailah pijar itu menggodamu.Tawarkan indah dunia, membuatmu berpaling dan tergoda.
Tinggalah aku disini.Memandangmu dibalik tirai ini.Ikut tertawa saat kau tertawa,atau menangis saat kau kucurkan air mata.Menjadi tempatmu berkeluh kesah,kusediakan bahuku untukmu bersandar.Aku tak akan mengeluh, meski saat tertawa,kau lebih suka berbagi denganya.

Lentera akhir malam

Sepi …. hening


dalam gelap dan udara malam yang dingin


berhembus angin yang berbisik suara-suara daun kering,


terserak dan berguguran di atas tanah yang berdebu.


Musim kemarau ini belum terlalu lama kulewati,


masih kujelang gamang dan malam-malam dingin


di bawah taburan bintang-bintang di langit yang angkuh dan beku.


Malam ini aku kembali beranjak sendiri meniti jalanan


di tepian kota kecil, bersama deretan


lentera-lentera yang bernyala redup.


Dalam udara yang dingin membeku,


setitik cahaya lentera yang kecil melawan gelap malam yang besar,


menyingkapkan sudut-sudut malam, kemudian membayang seperti


sebuah lukisan romantik kehidupan manusia yang sepi dan terasing


dalam bentang malam yang gelap.


Kujelang lentera di akhir malam berderet


sepanjang tepi jalanan kota ini.


Pejalan yang kecil dan asing ini menyapamu


lewat setapak demi setapak langkah kaki yang beranjak sepi.


Lentera akhir malam …. tetaplah dalam kelipmu yang kecil


agar setiap pejalan yang melintasi jalanan ini


mengingat kelip kecilmu melawan gelap malam yang besar,


seperti kesetiaanmu untuk tidak menjadi bintang yang tinggi


dan cahaya terang yang sombong.


Walau dalam gelap dan cahaya yang redup,


pejalan ini harus terus melangkah, meski dia tahu


gelap gulita akan membayang kepada hidup


yang harus dilanjutkanya.


Pejalan ini beranjak bukan hanya untuk satu kisah setia,


tapi untuk terus mencari ketulusan dan kecintaan,


walaupun dalam keremangan senja dan kegamangan malam


atau dalam pagi yang masih sepi.


Lentera akhir malam,


kutatap lagi kelip kecilmu tersenyum dan berkata padaku;


“wahai sahabat kecil, tetaplah berjalan mencintai takdirmu,


teruslah mencintai hidup walau mungkin engkau akan terasing dan dikatakan jalang”.

By katja www.puisi.org