Template by:
Free Blog Templates

Tuesday, 22 May 2012

Setiap detik yang berharga

Tadi pas iseng" buka facebook ada status yang membuatku miris. Seorang temen menulis " Lebih baek gak punya ortu, daripada punya tapi kayak gini". Mungkin dia belum pernah merasakan pedihnya kehilangan atau berada di situasi kritis sehingga tidak bisa menghargai kehadiran keluarganya. Entah mengapa aku begitu sedih, mungkin karena mengingatkanku pada masa lalu.Saat aku merasakan sendiri memperjuangkan nyawa ibuku.
Kejadian itu lima tahun lalu. Aku baru saja lulus sekolah. Tapi cobaan berat sudah menghadangku. Ibuku jatuh sakit, terkena glaukoma. Beliau merasa sakit yang termamat parah di kepalanya. Rumah sakit di daerahku tidak mampu menangani hingga harus dirujuk ke solo. Padahal keluargaku bukan keluarga berada bahkan bisa dibilang kekurangan. Ditambah lagi saat itu aku lagi lulus. Tapi untungnya keadaan mendidiku menjadi anak yang tidak manja. Saat sekolah aku sudah terbiasa bekerja sehingga sedikit" punya tabungan.
Akirnya aku nekat aja.Aku bawa ibuku ke solo dengan bekal seadanya.Aku cuma berniat mencari kesembuhan buat ibuku.Aku masih ingat sebuah doaku, saat itu setelah sholat aku berkata dengan airmata bercucuran pada Tuhan, aku bersedia menanggung setengah rasa sakit ibuku, karena saat itu aku tak tahu lagi bagaimana cara membantu mengurangi sakitnya.
Aku tak henti"nya berusaha dan berdoa dan mulai tampak hasilnya.Satu bulan kemudian ibuku keluar dari rumah sakit, kemudian membutuhkan satu tahun lebih untuk penyembuhan. Memang kemudian aku harus bekerja keras menanggung biaya pengobatanya, tapi tak sedikitpun aku menyesal atau mengeluh. Bukan hanya karena aku anak lelaki yang memang harus bertanggung jawab pada keluarga. Tapi juga karena dari kejadian ini aku menjadi lebih menghargai setiap kebersamaan dengan orang yang kusayangi, karena aku yakin sebuah pepatah, Tuhan kadang mengambil atau memisahkan kita untuk menyadarkan betapa berharganya kebersamaan itu.

0 comments: